![]() |
| Sumber foto: diunduh dari id.wikipedia.org |
WARTAALENGKA,
Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) merombak jajaran direksi
di anak usahanya, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter, di
tengah sorotan publik atas kasus penumpang yang mengaku kehilangan tumbler di
dalam rangkaian. Perubahan manajemen ini mencakup posisi direktur utama dan dua
kursi direksi lain yang menangani operasi serta keuangan.
Asdo Artriviyanto resmi diberhentikan dari jabatan
Direktur Utama KAI Commuter. Posisinya kini diisi oleh Mochamad Purnomosidi
yang sebelumnya menjabat sebagai Executive Vice President LRT Jabodebek.
Pergantian pucuk pimpinan ini berlaku mulai Kamis 27 November 2025 dan telah
dikonfirmasi perusahaan.
"Betul, per hari ini (pergantiannya)," ujar VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda,
saat dikonfirmasi.
Perombakan tidak berhenti di posisi direktur utama.
Pemegang saham juga mengganti jajaran direksi yang mengurus operasional dan
bisnis perusahaan. Broel Rizal dicopot dari kursi Direktur Operasi dan
Pemasaran dan digantikan oleh Heri Siswanto. Di bidang keuangan, Rahim Ramdhani
diberhentikan dari posisi Direktur Keuangan dan Administrasi, lalu kursi
tersebut diisi oleh Nugroho Dwi Sasongko.
Di ruang publik, waktu pergantian direksi ini langsung
dikaitkan dengan ramainya isu penumpang yang mengeluhkan kehilangan tumbler di
KRL dan bagaimana respons perusahaan menjadi bahan perbincangan di media
sosial. Namun manajemen KAI Commuter menegaskan tidak ada hubungan antara
rotasi direksi dan polemik tersebut.
"Perlu kami sampaikan bahwa penggantian direksi
tersebut tidak ada kaitan sama sekali dengan masalah tumbler. Hanya rotasi
rutin saja," kata Karina.
Karina menjelaskan bahwa perubahan komposisi direksi
merupakan bagian dari dinamika korporasi yang lazim dilakukan untuk penyegaran
organisasi dan penyesuaian strategi bisnis. Meski demikian, publik akan tetap
menilai langkah ini dalam konteks yang lebih luas, yaitu tuntutan peningkatan
pelayanan dan transparansi di tengah tingginya ketergantungan masyarakat pada
layanan KRL dan moda angkutan massal lainnya di kawasan Jabodetabek.
Perombakan ini sekaligus menjadi ujian awal bagi
manajemen baru KAI Commuter. Pimpinan yang baru tidak hanya dituntut menjaga
kinerja operasional dan keuangan, tetapi juga memperkuat kepercayaan penumpang,
merespons keluhan dengan lebih sigap, dan memastikan standar layanan terasa
nyata di lapangan, bukan sekadar di laporan resmi perusahaan.
Jika momentum ini bisa dimanfaatkan sebagai titik balik untuk pembenahan, rotasi direksi yang disebut sekadar rutinitas bisa dibaca sebagai awal babak baru dalam tata kelola layanan KRL komuter yang lebih akomodatif terhadap suara pengguna. (WA)
