Sejarah Perkembangan Filsafat Ilmu: Klasik, Modern, Dan Kontemporer

 Oleh: Maspuroh, Rahma Isma Fauziah, Rangga Syahrizal Mustopa, Syifa Amaliah

ABSTRAK

Filsafat ilmu merupakan kajian kritis mengenai dasar, metode, dan validitas pengetahuan ilmiah. Tulisan ini membahas perkembangan filsafat ilmu dalam tiga periode besar: klasik, modern, dan kontemporer. Pada periode klasik, filsafat ilmu berfokus pada pencarian hakikat realitas dan dasar rasional pengetahuan melalui pemikiran para filsuf Yunani dan teolog abad pertengahan. Periode modern ditandai dengan lahirnya metode ilmiah sistematis melalui kontribusi rasionalisme dan empirisme, serta berkembangnya positivisme. Sementara itu, periode kontemporer menghadirkan kritik terhadap pandangan positivistik melalui gagasan falsifikasi,  paradigma ilmu, program riset, hingga relativisme epistemologis.

Kajian ini menunjukkan bahwa filsafat ilmu senantiasa berkembang sesuai konteks zaman dan kebutuhan manusia dalam memahami realitas. Selain itu, pemahaman tentang sejarah perkembangan filsafat ilmu penting bagi mahasiswa dan akademisi agar mampu bersikap kritis, objektif, dan reflektif dalam mengembangkan pengetahuan. Dengan demikian, tulisan ini tidak hanya memberikan gambaran historis, tetapi juga relevansi praktis bagi dunia pendidikan, penelitian, serta pembentukan pola pikir ilmiah di era modern dan kontemporer.

 Kata Kunci: filsafat ilmu, klasik, modern, kontemporer, epistemologi.

Abstract

The philosophy of science is a critical study of the foundations, methods, and validity of scientific knowledge. This paper examines the development of the philosophy of science across three major periods: classical, modern, and contemporary. In the classical period, the philosophy of science focused on the search for the essence of reality and the rational basis of knowledge through the thought of Greek philosophers and medieval theologians. The modern period was marked by the birth of systematic scientific methods through the contributions of rationalism and empiricism, as well as the development of positivism. Meanwhile, the contemporary period presents a critique of positivistic views through the ideas of falsification, scientific paradigms, research programs, and epistemological relativism. 

This study demonstrates that the philosophy of science continues to evolve according to the context of the times and human needs in understanding reality. Furthermore, an understanding of the historical development of the philosophy of science is crucial for students and academics to develop a critical, objective, and reflective approach to knowledge development. Therefore, this paper provides not only a historical overview but also practical relevance for education, research, and the development of scientific thought patterns in the modern and contemporary era.

Keywords: philosophy of science, classical, modern, contemporary, epistemology.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat memiliki peran penting dalam menelaah dasar-dasar, metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak pernah lepas dari refleksi filosofis sejak zaman Yunani Kuno hingga era postmodern. Namun, dalam praktiknya banyak kajian filsafat ilmu hanya terfokus pada satu periode tertentu, misalnya periode modern dengan positivismenya, tanpa menelusuri keterkaitan historis dengan periode sebelumnya maupun kritik-kritik kontemporer. Hal ini menimbulkan kebutuhan untuk memahami perkembangan filsafat ilmu secara menyeluruh dari klasik, modern, hingga kontemporer.

Penelitian-penelitian terdahulu umumnya membahas filsafat ilmu secara parsial, baik dari segi tokoh maupun aliran tertentu. Misalnya, ada kajian yang menitikberatkan pada pemikiran Popper atau Kuhn, tetapi belum banyak yang menyajikan gambaran komparatif dan historis lintas zaman. Dengan demikian, terdapat celah penelitian dalam mengintegrasikan narasi perkembangan filsafat ilmu dari masa klasik hingga kontemporer secara utuh.

Tujuan Penelitian

Tulisan ini bertujuan untuk:

1.   Mendeskripsikan perkembangan filsafat ilmu pada periode klasik, modern, dan kontemporer.

2.   Mengidentifikasi pergeseran paradigma dan metode dalam filsafat ilmu dari masa ke masa.

3.   Memberikan pemahaman komprehensif mengenai bagaimana filsafat ilmu berkembang sesuai konteks sosial, budaya, dan intelektual.

METODE PENELITIAN

1.    Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literatur (library research).

2.    Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menelaah berbagai sumber literatur berupa buku, artikel ilmiah, dan karya akademik yang membahas filsafat ilmu, baik pada periode klasik, modern, maupun kontemporer.

3.    Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi, yaitu mengidentifikasi, membaca, dan mencatat informasi dari sumber-sumber pustaka relevan.

4.    Instrumen Data

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai pembaca dan analis, dengan bantuan alat pencatatan, klasifikasi tema, serta kerangka historis-filosofis.

5.    Analisis Data

Analisis dilakukan secara deskriptif-historis, yaitu menelusuri pemikiran tokoh-tokoh filsafat ilmu pada tiap periode, membandingkan, serta menemukan benang merah perkembangan dari masa klasik, modern, hingga kontemporer.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Paparan Hasil Kajian

Berdasarkan studi literatur, perkembangan filsafat ilmu dapat diklasifikasikan ke dalam tiga periode utama: klasik, modern, dan kontemporer. Mencerminkan pergeseran fundamental dalam cara pandang manusia terhadap pengetahuan dan realitas. Setiap periode memiliki ciri khasnya sendiri, mulai dari dominasi mitos, dominasi akal, hingga pluralisme dalam metodologi dan kebenaran.

a.    Periode klasik (sekitar abad ke-7 SM hingga abad ke-5 M)

1)              Transisi dari mitos ke logos: Filsafat ilmu pada masa ini, yang berawal di Yunani kuno, ditandai oleh pergeseran cara berpikir dari mitos (cerita-cerita legendaris) menuju logos (penalaran rasional). Para pemikir mulai mencoba menjelaskan fenomena alam berdasarkan sebab-sebab alami, bukan lagi mitologi.

2)              Dominasi filsafat alam: Pada periode awal, para filsuf seperti Thales, Anaximander, dan Heraclitus berfokus pada pertanyaan tentang asal mula alam semesta (physis).

Thales, misalnya, berpendapat bahwa air adalah prinsip pertama segala sesuatu

1)    Puncak pemikiran Yunani: Periode ini mencapai puncaknya melalui pemikiran Socrates, Plato, dan Aristoteles. Aristoteles secara khusus memberikan sumbangsih besar terhadap filsafat ilmu dengan mengembangkan metode deduktif dan sistem klasifikasi ilmu, yang memengaruhi pemikiran ilmiah selama berabad-abad.

2)    Keterkaitan ilmu dan filsafat: Ilmu pengetahuan pada periode ini masih sangat terjalin dengan filsafat. Filsafat alam (philosophia naturalis) dianggap sebagai cikal bakal ilmu-ilmu modern seperti fisika dan biologi. 

 

b.    Periode modern (sekitar abad ke-16 hingga akhir abad ke-19)

1)              Penekanan pada akal dan metode ilmiah: Dimulai sekitar tahun 1500 di Eropa, periode ini ditandai dengan munculnya kesadaran baru yang menempatkan akal (rasio) dan individualisme sebagai pusat pemikiran. Perkembangan pesat dalam bidang sains mengarah pada revolusi ilmiah.

2)              Tokoh-tokoh kunci: Tokoh-tokoh seperti Francis Bacon dan René Descartes memainkan peran penting. Bacon mengemukakan metode induktif berdasarkan observasi dan eksperimen, sedangkan Descartes menekankan metode deduktif dan rasionalisme.

3)              Munculnya perdebatan epistemologis: Perdebatan tentang sumber pengetahuan menjadi sentral, dengan munculnya aliran rasionalisme (Descartes, Spinoza) yang meyakini kebenaran berasal dari akal, dan empirisme (Locke, Hume) yang meyakini kebenaran berasal dari pengalaman.

4)              Pentingnya filsafat ilmu: Filsafat ilmu pada periode ini berperan penting dalam memahami dan mengevaluasi dampak sosial serta etis dari penemuan-penemuan ilmiah yang pesat. 

 

c.     Periode kontemporer (akhir abad ke-19 hingga sekarang)

1)    Kritik terhadap fondasi ilmu: Periode ini ditandai dengan adanya kritik mendalam terhadap asumsi-asumsi dasar yang mapan dalam filsafat modern. Filsafat kontemporer berkembang dalam upaya rekonstruksi, dekonstruksi, dan inovasiinovasi.

2)    Pluralisme pemikiran: Munculnya berbagai aliran pemikiran, seperti strukturalisme, post-strukturalisme, dan post-marxisme, menunjukkan adanya pluralisme metodologi dan kebenaran. Tidak ada lagi satu pandangan tunggal yang dominan tentang ilmu.

1)              Fokus pada bahasa dan makna: Aliran-aliran seperti positivisme logis (yang mencoba memformulasikan bahasa ilmiah) dan pragmatisme (yang menekankan kegunaan praktis) muncul pada periode ini.

2)              Dampak teknologi: Perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer tidak terjadi secara instan, melainkan secara bertahap dan evolutif, sering kali didorong oleh inovasiinovasi teknologi. Filsafat ilmu membantu ilmuwan mengevaluasi dampak sosial dan etis dari kemajuan ini.

3)              Konsep paradigma Kuhn: Pemikiran Thomas S. Kuhn tentang revolusi ilmiah dan pergeseran paradigma juga memengaruhi cara pandang filsafat ilmu, menunjukkan bahwa kemajuan ilmiah tidak selalu bersifat linier.

2.  Analisis Perbandingan dengan Penelitian Terdahulu

Kajian ini menunjukkan bahwa perkembangan filsafat ilmu bersifat dinamis dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Hasil ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri (2010) yang menyatakan bahwa filsafat ilmu terus berubah sesuai dengan problematika ilmu pengetahuan dan perkembangan masyarakat.

Namun, temuan ini juga menunjukkan adanya perbedaan pendekatan antara tiap periode:

1)      Pemikiran klasik lebih menekankan pada metafisika dan rasionalitas abstrak.

2)      Pemikiran modern menekankan pada metode ilmiah dan objektivitas empiris.

3)      Pemikiran kontemporer menekankan pada kritik metodologis, fleksibilitas, dan relativitas pengetahuan.

3. Faktor Pendukung dan Kendala

a)    Faktor Pendukung:

1)    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menuntut metode ilmiah lebih sistematis.

2)    Perubahan sosial, budaya, dan politik yang mendorong perubahan paradigma ilmiah.

3)    Kebutuhan manusia untuk memahami realitas secara lebih kompleks.

b)   Kendala:

1)    Perdebatan antar aliran filsafat (rasionalisme vs empirisme, positivisme vs relativisme) yang sering kali menimbulkan pertentangan metodologis.

2)    Tidak adanya konsensus universal mengenai definisi “ilmu” yang sahih.

3)    Relativisme kontemporer yang berpotensi melemahkan kepastian metodologis ilmu.

 

4. Interpretasi Makna

Dari pembahasan di atas dapat diinterpretasikan bahwa filsafat ilmu bukanlah kajian yang statis, melainkan dinamis dan kontekstual. Perubahan dalam filsafat ilmu tidak hanya berkaitan dengan metode ilmiah, tetapi juga menyangkut paradigma berpikir manusia dalam memahami realitas, kebenaran, dan pengetahuan. Dengan demikian, filsafat ilmu berfungsi sebagai refleksi kritis atas dasar, metode, dan tujuan ilmu pengetahuan, serta menjadi landasan bagi perkembangan ilmu pada setiap zaman.

 

KESIMPULAN

Sejarah perkembangan filsafat ilmu memperlihatkan adanya dinamika pemikiran yang terus berubah dari masa ke masa. Periode klasik menekankan pencarian hakikat realitas melalui penalaran rasional dan metafisika; periode modern melahirkan metode ilmiah yang sistematis melalui rasionalisme dan empirisme; sedangkan periode kontemporer menghadirkan kritik terhadap objektivitas universal dengan menekankan pluralitas, relativitas, serta paradigma baru dalam ilmu. Perjalanan ini menunjukkan bahwa filsafat ilmu tidak bersifat statis, melainkan selalu kontekstual dengan kebutuhan sosial, budaya, dan intelektual masyarakat. Pemahaman terhadap perkembangan ini menjadi penting agar mahasiswa, akademisi, maupun praktisi ilmu dapat bersikap kritis, reflektif, dan objektif dalam mengembangkan pengetahuan.

SARAN

Bagi Mahasiswa dan Akademisi

Disarankan untuk memperdalam kajian filsafat ilmu secara komprehensif, tidak hanya pada satu periode tertentu. Hal ini penting agar memiliki sudut pandang yang luas dalam menganalisis perkembangan ilmu dan penerapannya di berbagai bidang.

Bagi Dunia Pendidikan

Filsafat ilmu perlu lebih diintegrasikan dalam kurikulum agar peserta didik tidak hanya menguasai aspek teknis suatu disiplin, tetapi juga mampu berpikir kritis, sistematis, dan reflektif terhadap dasar-dasar keilmuan.

Bagi Peneliti

Penelitian selanjutnya dapat menyoroti hubungan filsafat ilmu dengan perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, maupun isu-isu etis kontemporer, sehingga relevansinya semakin nyata dalam menjawab tantangan zaman.

Bagi Masyarakat Umum

Penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu bukanlah entitas tunggal yang mutlak, melainkan hasil konstruksi manusia yang terus berkembang. Dengan kesadaran ini, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Kattsoff, L. O. (2004). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Muslih, M. (2016). Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: LESFI.

Suriasumantri, J. S. (2010). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sumber: www.academia.edu https://share.google/I2dJjvrS1g4dp5qvk

Sumber: JURNAL KALIMASADA https://share.google/2UDoOhBVAgo86bEML

Sumber: Neliti https://media.neliti.com/media/publications/541886-none-66366e1d.pdf Sumber: Kampus Akademik https://share.google/wVNdcIQsVj8kwRtch

(WA/Ow)

Lebih baru Lebih lama