Oleh: Ahmad Khattim Attamim, Muphtiastani Nurulilma Karima, Siti Masropah
ABSTRAK
Artikel ini membahas filsafat ilmu sebagai refleksi
kritis terhadap dasar, metode, dan tujuan ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan
metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, tulisan ini menguraikan
pengertian filsafat, ilmu, dan filsafat ilmu, serta pandangan tokoh-tokoh Barat
seperti Aristoteles, Bacon, Descartes, Popper, dan Kuhn, maupun ulama Islam
seperti Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibn Khaldun. Ruang lingkup filsafat ilmu
dianalisis melalui dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi, dengan
tinjauan terhadap berbagai cabang ilmu, yaitu sains, ilmu sosial, pendidikan,
dan perspektif Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa filsafat ilmu berfungsi
sebagai landasan kritis, pemandu metodologis, dan pengarah aksiologis bagi
ilmu, sehingga ilmu tidak hanya sahih secara teknis, tetapi juga bermakna
secara moral dan spiritual. Dalam perspektif Islam, ilmu memiliki kedudukan
mulia sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membawa kemaslahatan
bagi umat. Dengan demikian, filsafat ilmu penting dalam memastikan perkembangan
pengetahuan yang integratif, holistik, dan bermanfaat bagi peradaban manusia.
Kata kunci: filsafat, ilmu, filsafat ilmu, ontologi,
epistemologi, aksiologi, Islam.
Abstract
This article discusses the philosophy of science as a
critical reflection on the foundations, methods, and purposes of scientific
knowledge. Using a qualitative research approach through library study, it
explores the definitions of philosophy, science, and philosophy of science,
along with the perspectives of Western thinkers such as Aristotle, Bacon,
Descartes, Popper, and Kuhn, as well as Islamic scholars including Al-Farabi,
Al-Ghazali, and Ibn Khaldun. The scope of the philosophy of science is analyzed
through the dimensions of ontology, epistemology, and axiology, with particular
attention to its implications for various fields of knowledge: natural
sciences, social sciences, education, and Islamic thought. The findings
highlight that the philosophy of science functions as a critical foundation, a
methodological guide, and an axiological orientation, ensuring that science is
not only technically valid but also morally and spiritually meaningful. From
the Islamic perspective, knowledge is elevated as a means to approach Allah SWT
and to promote the welfare of humanity. Thus, the philosophy of science is
crucial for ensuring the development of integrative, holistic, and beneficial
knowledge for human civilization.
Keywords: philosophy, science, philosophy of science, ontology, epistemology,
axiology, Islam.
Pendahuluan
Ilmu pengetahuan merupakan pilar utama perkembangan
peradaban manusia. Sejak zaman Yunani kuno, manusia berusaha memahami realitas,
hukum-hukum alam, dan hakikat keberadaannya melalui filsafat dan ilmu.
Perkembangan ilmu yang pesat, khususnya setelah revolusi ilmiah abad ke-17 dan
revolusi industri abad ke-18, membawa kemajuan luar biasa dalam bidang
teknologi, kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Namun, perkembangan ilmu juga menimbulkan
problematika. Ilmu dapat menjadi pedang bermata dua: di satu sisi membawa
kemajuan, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan bencana jika tidak digunakan
secara bijaksana. Senjata nuklir, krisis ekologi, dehumanisasi oleh teknologi,
dan ketimpangan sosial adalah contoh nyata penyalahgunaan ilmu. Hal ini
menimbulkan pertanyaan mendasar: apa hakikat ilmu, bagaimana ilmu diperoleh,
dan untuk apa ilmu digunakan?
Menurut Harold H. Titus (1984), filsafat ilmu adalah
cabang filsafat yang menelaah asumsi, dasar, serta implikasi dari ilmu
pengetahuan. Jujun S. Suriasumantri (1990) menambahkan bahwa filsafat ilmu
meneliti hakikat, batas, dan tanggung jawab ilmu. Dengan demikian, filsafat
ilmu adalah refleksi kritis terhadap fondasi ontologis, epistemologis, dan
aksiologis dari ilmu.
Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan mulia. Al-Qur’an
menyebut kata ‘ilm lebih dari 700 kali. QS. Al-Mujadilah [58]:11
menegaskan:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya instrumen
duniawi, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah dan mencapai
kemuliaan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini akan
membahas filsafat ilmu secara komprehensif, meliputi: (1) pengertian filsafat
ilmu, (2) ruang lingkup filsafat ilmu, (3) kedudukan filsafat ilmu dalam
berbagai cabang ilmu (sains, sosial, pendidikan, dan Islam), (4) manfaat
filsafat ilmu bagi perkembangan pengetahuan dan kehidupan manusia, serta (5)
metode penelitian yang digunakan.
Metode Penelitian
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library
research). Sumber data utama berupa literatur klasik dan modern yang
relevan. Data
dikumpulkan melalui telaah buku, jurnal, artikel ilmiah, dan dokumen resmi.
Teknik analisis menggunakan analisis isi (content analysis) dengan
langkah-langkah:
- Mengidentifikasi
konsep utama dari literatur.
- Mengklasifikasi
pandangan tokoh sesuai tema (sains, sosial, pendidikan, Islam).
- Membandingkan
pemikiran Barat dan Islam.
- Menyintesis
hasil kajian untuk menarik kesimpulan komprehensif.
Pembahasan
Pengertian Filsafat Ilmu
Filsafat,
ilmu, dan filsafat ilmu memiliki keterkaitan erat, tetapi ketiganya memiliki
pengertian dan ruang lingkup yang berbeda. Secara etimologis, kata filsafat berasal dari
bahasa Yunani philosophia
yang berarti cinta kebijaksanaan. Filsafat adalah usaha berpikir secara
mendalam, radikal, kritis, dan menyeluruh mengenai segala sesuatu, baik yang
nyata maupun abstrak. Objek kajiannya tidak terbatas, meliputi alam, manusia,
pengetahuan, moral, hingga Tuhan. Filsafat menggunakan metode refleksi rasional
dan logis untuk mencari hakikat terdalam dari realitas. Tujuan utama filsafat
bukan hanya memperoleh pengetahuan, tetapi mencapai kebijaksanaan (wisdom).
Berbeda dengan
filsafat, ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, rasional, dan
dapat diuji kebenarannya melalui metode ilmiah. Objek ilmu lebih terbatas dan
spesifik, misalnya fisika mempelajari hukum alam, biologi mempelajari
kehidupan, sosiologi mempelajari masyarakat, dan pendidikan mempelajari proses
belajar-mengajar. Ilmu berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan
mengendalikan fenomena yang diteliti. Dengan kata lain, jika filsafat bersifat
spekulatif dan menyeluruh, maka ilmu bersifat empiris dan terfokus.
Adapun filsafat
ilmu adalah cabang filsafat yang secara khusus mengkaji ilmu pengetahuan
itu sendiri. Filsafat ilmu tidak lagi meneliti fenomena alam atau sosial,
melainkan menelaah hakikat ilmu, dasar-dasar ontologisnya, metode epistemologis
yang digunakan, serta tujuan dan nilai aksiologis yang dikandungnya. Dengan
demikian, filsafat ilmu bertugas untuk mengkritisi, mengarahkan, dan memberikan
pijakan filosofis bagi ilmu pengetahuan, agar ilmu tidak sekadar sahih secara
teknis, tetapi juga bermakna secara etis dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Maka, secara sederhana, filsafat ilmu dapat diartikan
sebagai refleksi kritis tentang ilmu pengetahuan: hakikatnya, dasarnya, metode
yang digunakannya, serta tujuan akhirnya.
Untuk lebih mudah
dipahami, hubungan antara ketiganya dapat dianalogikan dengan sebuah pohon.
Filsafat ibarat akar yang menembus ke dalam tanah dan mencari sumber hakikat.
Ilmu ibarat batang dan cabang yang tumbuh dari akar, menghasilkan pengetahuan
yang nyata dan bermanfaat. Sementara itu, filsafat ilmu ibarat tukang kebun
yang merawat batang dan cabang pohon tersebut agar tumbuh kokoh, sehat, dan ke
arah yang benar. Analogi ini menegaskan bahwa filsafat, ilmu, dan filsafat ilmu
merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, namun masing-masing
memiliki fungsi yang berbeda.
Pandangan Para Tokoh
Barat
1.
Aristoteles (384–322 SM): Ilmu adalah pengetahuan tentang
sebab. Menurutnya, pengetahuan baru bisa disebut episteme (ilmu sejati) bila mampu menjelaskan
mengapa sesuatu terjadi,
bukan hanya apa yang terjadi.
2.
Francis Bacon (1561–1626): Ilmu harus diperoleh lewat observasi
dan eksperimen. Bacon mengkritik filsafat skolastik yang terlalu spekulatif. Ia
menekankan metode induksi dari data empiris menuju hukum umum.
3.
René Descartes (1596–1650): Ilmu harus memiliki kepastian mutlak.
Ia menggunakan keraguan metodis untuk menyaring kebenaran dan berlandaskan
deduksi rasional. Prinsipnya yang terkenal adalah Cogito, ergo sum (aku berpikir, maka aku
ada).
4.
Karl Popper (1902–1994): Ilmu berkembang melalui falsifikasi. Teori ilmiah
tidak pernah final; ia sahih sejauh belum dibantah. Misalnya, seribu pengamatan
bahwa “semua angsa berwarna putih” tidak bisa membuktikan teori itu, tapi satu
pengamatan angsa hitam cukup untuk membantahnya.
5.
Thomas Kuhn (1922–1996): Ilmu berkembang melalui revolusi
paradigma. Artinya, ilmu tidak maju secara linier, melainkan mengalami
perubahan besar dalam pola pikir ilmiah. Misalnya, pergeseran dari pandangan
geosentris (bumi pusat alam semesta) ke heliosentris (matahari pusat tata
surya).
Pandangan Para Ulama dan Cendekiawan Islam
1.
Al-Farabi (872–950): Ilmu adalah jalan untuk mencapai
kebahagiaan tertinggi. Filsafat dan ilmu tidak boleh dipisahkan dari tujuan
moral dan spiritual manusia.
2.
Al-Ghazali (1058–1111): Ilmu terbagi menjadi ilmu bermanfaat
(‘ilm al-nafi‘)
dan tidak bermanfaat. Ilmu yang benar adalah yang mendekatkan manusia kepada
Allah dan membawa kemaslahatan.
3.
Ibn Khaldun (1332–1406): Ilmu adalah fondasi peradaban (umran). Menurutnya,
kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu.
4.
Syed Naquib al-Attas (1931–2023): Dalam konteks modern, ia menegaskan
bahwa krisis umat Islam bukanlah kurangnya ilmu, tetapi kekeliruan dalam memahami dan
menempatkan ilmu (confusion
of knowledge).
Analogi untuk Memahami
Filsafat Ilmu
Untuk
lebih mudah, bayangkan ilmu sebagai sebuah
bangunan rumah:
· Ontologi = pondasi → menentukan apa yang akan
dibangun. Tanpa pondasi, rumah roboh.
· Epistemologi = alat dan metode konstruksi →
bagaimana cara membangun rumah (pakai tukang, semen, kayu, aturan konstruksi).
Kalau salah metode, rumah bisa retak.
· Aksiologi = tujuan rumah itu → untuk apa rumah
digunakan (apakah untuk dihuni keluarga, disewakan, atau dibiarkan kosong).
Kalau tidak jelas tujuannya, rumah bisa tidak berguna.
Nah,
filsafat ilmu
ibarat arsitek yang
merancang rumah: ia memastikan bahwa pondasi (ontologi), metode
(epistemologi), dan tujuan (aksiologi) saling sesuai sehingga bangunan ilmu
kokoh, fungsional, dan bermanfaat.
Perbedaan Filsafat, Ilmu, dan Filsafat Ilmu
· Filsafat: berpikir secara radikal dan
spekulatif tentang segala hal, bahkan yang tidak bisa dibuktikan (misalnya:
hakikat jiwa, makna hidup).
· Ilmu: pengetahuan yang sistematis, empiris,
dan bisa diuji.
· Filsafat
Ilmu: refleksi
kritis atas ilmu; membedah asumsi, metode, dan tujuan ilmu itu sendiri.
2. Ruang Lingkup
Filsafat Ilmu
Ruang
lingkup filsafat ilmu secara umum mencakup tiga aspek utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Ketiga aspek ini merupakan kerangka pokok yang membantu memahami hakikat ilmu,
bagaimana ilmu diperoleh, serta tujuan penggunaannya dalam kehidupan manusia.
Ontologi membahas tentang “apa
yang ada” dan “apa yang dikaji oleh ilmu.” Dalam konteks ini, ontologi filsafat
ilmu mempertanyakan: apa hakikat realitas yang diteliti oleh ilmu?. Dalam
sains alam, objek yang dikaji adalah fenomena fisik dan biologis yang dapat
diamati secara empiris, seperti hukum gravitasi, struktur atom, atau proses
fotosintesis. Dalam ilmu sosial, objek kajiannya adalah manusia beserta
interaksi sosial, budaya, dan dinamika masyarakat, yang lebih kompleks karena
terkait nilai dan makna. Dalam pendidikan, ontologi berfokus pada manusia
sebagai subjek belajar yang memiliki aspek biologis, psikologis, sosial, dan
spiritual. Sementara itu, dalam perspektif Islam, ontologi ilmu tidak hanya
mencakup realitas empiris, tetapi juga realitas gaib yang diyakini melalui
wahyu, seperti keberadaan malaikat, ruh, dan kehidupan akhirat. Dengan
demikian, ontologi membantu menegaskan batas-batas realitas yang dapat
dijangkau oleh ilmu, baik empiris maupun transendental.
Epistemologi
berkaitan dengan pertanyaan: bagaimana ilmu diperoleh, dari mana sumbernya,
dan dengan cara apa ia dibenarkan?. Dalam tradisi Barat,
Aristoteles menekankan pentingnya logika deduktif, sementara Francis Bacon
mengajukan metode induktif yang bertumpu pada observasi dan eksperimen. René
Descartes menekankan keraguan metodis untuk mencapai kepastian, sedangkan Karl
Popper mengajukan prinsip falsifikasi agar teori ilmiah selalu terbuka untuk
diuji dan dikoreksi. Thomas Kuhn menambahkan bahwa perkembangan ilmu tidak
berjalan linier, melainkan melalui revolusi paradigma. Dalam ilmu sosial, Max
Weber memperkenalkan metode verstehen,
yaitu pemahaman mendalam terhadap makna tindakan manusia. Dalam pendidikan,
epistemologi menekankan metode belajar yang efektif, seperti learning by doing menurut John Dewey, atau pendidikan
dialogis menurut Paulo Freire. Sementara itu, epistemologi Islam bersifat lebih
luas karena selain mengakui akal dan pengalaman empiris sebagai sumber ilmu, ia
juga menekankan peran wahyu dan hati nurani (qalb)
sebagai sumber pengetahuan yang sah. Dengan demikian, epistemologi berfungsi
untuk memastikan validitas dan legitimasi pengetahuan.
Aksiologi membahas
tentang untuk apa ilmu digunakan dan nilai apa yang terkandung dalam
ilmu ?. Sehingga aksiologi
sangat berkaitan
dengan nilai, tujuan, dan manfaat ilmu. Ilmu pada dasarnya tidak netral, karena
penggunaan ilmu selalu terkait dengan kepentingan tertentu. Dalam sains modern,
hasil penemuan bisa digunakan untuk tujuan yang berbeda: energi nuklir,
misalnya, dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik yang menyejahterakan atau
sebaliknya dipakai sebagai senjata pemusnah massal. Dalam ilmu sosial,
aksiologi menekankan peran ilmu untuk mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan
harmoni sosial. Dalam pendidikan, aksiologi menegaskan bahwa ilmu diarahkan
untuk membentuk manusia yang cerdas sekaligus bermoral. Dalam Islam, aksiologi
ilmu sangat jelas, yakni ilmu harus digunakan untuk mendekatkan diri kepada
Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat (rahmatan
lil ‘alamin). Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam haditsnya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia
lain.” (HR. Ahmad).
Dengan
demikian, ruang lingkup filsafat ilmu meliputi ontologi, epistemologi, dan
aksiologi yang saling terkait. Ontologi menentukan objek apa yang dikaji,
epistemologi menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh dan divalidasi,
sedangkan aksiologi mengarahkan ilmu agar bermanfaat dan bernilai. Ketiga aspek
ini membentuk kerangka utuh sehingga ilmu tidak hanya sahih secara metodologis,
tetapi juga bermakna secara moral dan spiritual.
- Ontologi → menjawab apa
yang dikaji oleh ilmu?
- Epistemologi → menjawab bagaimana
ilmu diperoleh dan divalidasi?
- Aksiologi → menjawab untuk
apa ilmu digunakan dan nilai apa yang mendasarinya?
Ketiganya saling
terkait: ontologi menentukan objek, epistemologi menentukan cara, dan aksiologi
menentukan tujuan.
3. Kedudukan Filsafat
Ilmu dalam Berbagai Cabang Ilmu
a.Dalam Sains
Popper menekankan falsifikasi; Kuhn menekankan revolusi paradigma. Contoh:
pergeseran dari fisika Newton ke relativitas Einstein. Dalam Islam, sains
dipandang sebagai sarana memahami ayat-ayat kauniyah Allah (QS. Ali Imran
[3]:190–191).
b.Dalam Ilmu
Sosial
Comte mengedepankan positivisme; Weber menekankan pendekatan interpretatif.
Filsafat ilmu menjembatani perdebatan kuantitatif vs kualitatif. Ibn Khaldun
menekankan hubungan ilmu sosial dengan dinamika peradaban.
c.
Dalam Pendidikan
Dewey menekankan pendidikan berbasis pengalaman; Freire menekankan pendidikan
pembebasan; Ki Hajar Dewantara menekankan pendidikan merdeka. Dalam Islam,
pendidikan bertujuan membentuk insan kamil, berilmu, beriman, dan berakhlak.
d.
Dalam Islam
Al-Farabi menekankan filsafat sebagai jalan menuju kebahagiaan. Al-Ghazali
menekankan pentingnya ilmu bermanfaat. Ibn Khaldun menekankan ilmu sebagai
pilar peradaban. Islam menegaskan integrasi akal, wahyu, dan qalb sebagai
sumber pengetahuan.
4. Manfaat Filsafat
Ilmu
Manfaat
filsafat ilmu tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga sangat praktis bagi
berbagai cabang keilmuan. Dalam sains
alam, filsafat ilmu memberikan kerangka untuk menilai keabsahan
metode eksperimen, teori, dan hukum-hukum ilmiah. Misalnya, melalui
epistemologi, sains diarahkan untuk selalu terbuka terhadap pembaruan teori,
sebagaimana terlihat dalam pergeseran paradigma dari fisika Newton ke fisika
relativitas Einstein. Manfaat ini menjadikan sains tidak stagnan, tetapi selalu
berkembang sesuai penemuan baru. Dalam ilmu
sosial, filsafat ilmu membantu memahami manusia dan masyarakat
dengan mempertimbangkan dimensi nilai, makna, serta subjektivitas. Hal ini
penting karena fenomena sosial tidak bisa hanya dijelaskan dengan hukum
universal seperti dalam sains alam, tetapi memerlukan pendekatan interpretatif.
Dengan filsafat ilmu, para ilmuwan sosial diajak untuk mengkaji masyarakat
secara kritis, adil, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Dalam
bidang pendidikan,
manfaat filsafat ilmu sangat besar karena pendidikan tidak sekadar menyampaikan
informasi, melainkan juga menanamkan nilai dan membentuk kepribadian. Filsafat
ilmu menegaskan bahwa proses pendidikan harus mempertimbangkan ontologi peserta
didik sebagai makhluk yang unik, epistemologi pembelajaran yang sesuai dengan
cara berpikir mereka, serta aksiologi berupa tujuan mulia pendidikan untuk
mencerdaskan sekaligus memanusiakan. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran
tokoh seperti John Dewey dengan learning
by doing, atau Ki Hajar Dewantara dengan semboyannya ing ngarso sung tulodo, ing madyo
mangun karso, tut wuri handayani, yang menekankan peran pendidikan
dalam pembentukan karakter.
Dalam
perspektif Islam,
manfaat filsafat ilmu menjadi lebih menyeluruh. Islam menempatkan ilmu sebagai
salah satu jalan menuju kedekatan dengan Allah SWT, sehingga ilmu tidak hanya
dinilai dari kebenaran empiris, tetapi juga dari orientasi moral dan
spiritualnya. Filsafat ilmu dalam pandangan Islam membantu umat untuk menyadari
bahwa ilmu harus diarahkan untuk kebaikan, kemaslahatan, dan rahmatan lil ‘alamin.
Al-Qur’an sendiri berulang kali menekankan pentingnya berpikir dan menuntut
ilmu, misalnya dalam QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5 tentang perintah membaca dan
belajar. Ulama seperti Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu bermanfaat jika membawa
seseorang semakin taat kepada Allah, sementara Ibnu Khaldun melalui Muqaddimah menunjukkan
bahwa ilmu juga berperan dalam membangun peradaban manusia.
Dari
uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu memberikan manfaat
komprehensif dalam setiap cabang ilmu. Ia membantu sains menjadi dinamis, ilmu
sosial lebih manusiawi, pendidikan lebih bermakna, dan Islam lebih integratif
dalam memandang ilmu. Dengan kerangka filsafat ilmu, pengetahuan tidak hanya
menjadi sarana memahami realitas, tetapi juga menjadi alat untuk memperbaiki
kehidupan manusia secara holistik: jasmani, rohani, sosial, dan spiritual.
Kesimpulan
Filsafat
ilmu merupakan disiplin penting yang berfungsi menelaah hakikat, dasar, dan
tujuan ilmu pengetahuan. Sebagai cabang filsafat, ia menyoroti tiga aspek
utama: ontologi, epistemologi, dan aksiologi, yang secara bersama-sama
menentukan apa yang dikaji, bagaimana pengetahuan diperoleh, serta untuk apa
ilmu digunakan. Dalam perkembangan sains, filsafat ilmu membantu menjaga
dinamika teori dan metode agar tetap terbuka pada pembaruan. Dalam ilmu sosial,
ia menegaskan pentingnya pendekatan kritis dan interpretatif untuk memahami
kompleksitas masyarakat. Dalam pendidikan, filsafat ilmu mengarahkan tujuan
pendidikan agar tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan. Dalam
perspektif Islam, filsafat ilmu mengingatkan bahwa ilmu memiliki dimensi
transendental, yakni sebagai jalan menuju kedekatan dengan Allah SWT dan
kemaslahatan umat.
Dengan
demikian, filsafat ilmu memiliki manfaat komprehensif: menumbuhkan sikap
kritis, memberikan pijakan metodologis, mengarahkan nilai-nilai kemanusiaan,
dan memperkuat integrasi antara ilmu dan iman. Ia menjadi jembatan antara
rasionalitas dan spiritualitas, antara kemajuan teknologi dan kebutuhan etika,
serta antara ilmu modern dan tradisi keilmuan Islam. Oleh karena itu, filsafat
ilmu tidak hanya relevan secara akademis, tetapi juga urgen sebagai fondasi
peradaban yang berkeadilan, berkeadaban, dan berkeimanan.
Daftar Pustaka
- Bacon,
Francis. (2000). Novum Organum. Cambridge: Cambridge University
Press.
- Comte,
Auguste. (1974). The Positive Philosophy. New York: AMS Press.
- Descartes,
René. (1998). Discourse on Method. Cambridge: Cambridge University
Press.
- Dewey,
John. (1938). Experience and Education. New York: Macmillan.
- Freire,
Paulo. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
- Ibn
Khaldun. (2000). Muqaddimah Ibn Khaldun. Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Ilmiyyah.
- Kaelan.
(2005). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Paradigma.
- Kuhn,
Thomas S. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. Chicago:
University of Chicago Press.
- Popper,
Karl. (1963). Conjectures and Refutations. London: Routledge.
- Suriasumantri,
Jujun S. (1990). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
- Titus,
Harold H. (1984). Perspectives on Philosophy. New York: Harper
& Row.
- Al-Farabi.
(1985). Al-Madina al-Fadhilah. Kairo: Dar al-Ma‘arif.
- Al-Ghazali.
(2005). Ihya’ ‘Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Fikr.
- Al-Qur’an
al-Karim: QS. Al-Baqarah:3; QS. Ali Imran:190–191; QS. Al-Mujadilah:11;
QS. An-Nisa:135; QS. Al-‘Alaq:1–5.
- HR.
Ibnu Majah, HR. Muslim.