![]() |
Sumber Foto: Kompas.com/Adil Nursalam |
WARTAALENGKA,
Jakarata - Thom Haye masih menjadi satu-satunya pilar Timnas
Indonesia yang belum mengikat kontrak klub jelang ditutupnya bursa transfer
musim panas 2025. Namanya santer dikaitkan dengan Persib Bandung, tetapi hingga
kini belum ada pernyataan resmi dari kedua pihak. Di atas kertas, kualitas dan
jam terbangnya semestinya cukup untuk menarik minat klub mana pun—dari Eropa
hingga Asia. Jika pada akhirnya berlabuh di Bandung, langkah itu bukan
kemunduran, melainkan pilihan strategis dengan sejumlah nilai tambah yang konkret.
Menit
Bermain yang Lebih Terjamin
Di
Heerenveen dan Almere City, Haye mendapatkan menit bermain memadai. Di Persib,
peluang itu berpotensi lebih besar dan stabil—modal penting untuk menjaga
ritme, kebugaran, dan tajamnya sentuhan. Bagi gelandang yang mengandalkan visi dan tempo, kontinuitas tampil adalah
“bahan bakar” utama.
Menaikkan Kepercayaan Diri di Level
Regional
Kompetisi Asia Tenggara bisa menjadi panggung untuk
memulihkan—bahkan mengangkat—kepercayaan diri. Dengan standar pengalaman Eropa,
Haye berpeluang menjadi figur sentral di lini tengah Maung Bandung. Momen ini
dapat mengembalikan “auranya” sebagai pengarah permainan yang dominan.
Adaptasi Budaya Sepak Bola Asia
untuk Timnas
edekatan dengan ekosistem sepak bola Asia
Tenggara—atmosfer stadion, gaya bermain, hingga dinamika laga—akan berimbas
pada kesiapan mental saat membela Garuda. Terbiasa dengan konteks regional
berarti lebih cepat klik ketika kalender Timnas memanggil.
Logistik
Timnas: Lebih Dekat, Lebih Ringkas
Berkarir di Indonesia membuat jarak ke pemusatan latihan
dan pertandingan Timnas kian efisien. Minim jet lag, minim perjalanan
panjang—energi Haye bisa dialokasikan untuk performa, bukan perjalanan.
Lingkungan Kompetitif: Standar Juara
Bertahan
Persib adalah juara bertahan kasta tertinggi Liga
Indonesia. Target mempertahankan gelar menuntut intensitas,
disiplin, dan detail tinggi—iklim yang tepat untuk menjaga standar pribadi.
Rivalitas panas dan tuntutan Bobotoh akan menguji, sekaligus mengasah,
ketangguhan Haye di level domestik.
Pada akhirnya, keputusan ada di tangan Haye. Namun bila pilihannya Maung Bandung, ada alasan kuat mengapa langkah itu justru tampak rasional: menit main, momentum kepercayaan diri, adaptasi regional untuk Timnas, efisiensi logistik, dan iklim kompetitif juara. Semua elemen itu menyatu menjadi proposal karier yang masuk akal—bukan kompromi. (WA)