![]() |
WARTAALENGKA,
Cianjur – Kebiasaan masyarakat Indonesia mengonsumsi gorengan pada
pagi hari, baik sebagai sarapan utama maupun camilan sebelum beraktivitas,
telah menjadi fenomena sosial yang menarik namun sekaligus berpotensi
membahayakan kesehatan. Gorengan umumnya mengandung minyak dalam jumlah tinggi,
tepung olahan, serta sering kali digoreng berulang kali sehingga menghasilkan
senyawa berbahaya seperti akrolein, aldehida, dan radikal bebas. Konsumsi
makanan ini dalam kondisi tubuh yang baru saja beristirahat semalaman dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap metabolisme, sistem pencernaan, dan kesehatan jangka
panjang.
Secara
fisiologis, tubuh manusia pada pagi hari sedang berada dalam fase transisi dari
istirahat menuju aktivitas. Sistem pencernaan masih dalam tahap adaptasi, di
mana produksi enzim dan asam lambung meningkat secara bertahap untuk memproses
asupan makanan. Pemberian makanan berlemak tinggi seperti gorengan dapat
membebani lambung secara tiba-tiba, sehingga menimbulkan gejala tidak nyaman
seperti mual, perut kembung, atau nyeri ulu hati. Pada individu dengan riwayat
penyakit asam lambung (GERD), konsumsi gorengan di pagi hari berpotensi
memperburuk refluks asam dan iritasi mukosa esofagus.
Dari
perspektif metabolik, konsumsi gorengan di pagi hari dapat meningkatkan kadar
trigliserida dalam darah secara signifikan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa
asupan lemak jenuh dan trans fat pada waktu sarapan berkorelasi dengan
peningkatan resistensi insulin serta risiko dislipidemia. Kondisi ini dapat
memicu kelelahan lebih cepat, menurunkan konsentrasi, dan dalam jangka panjang
meningkatkan risiko sindrom metabolik. Dengan demikian, meskipun gorengan
memberikan energi instan, kualitas energi yang dihasilkan rendah dan lebih
banyak menimbulkan beban metabolik daripada manfaat.
Selain
itu, minyak jelantah yang sering digunakan pada gorengan jalanan menghasilkan
senyawa advanced glycation end-products (AGEs) yang bersifat
karsinogenik. Konsumsi gorengan berulang, terutama di pagi hari ketika tubuh
sedang membutuhkan makanan bernutrisi tinggi untuk memulai aktivitas, dapat
memperbesar paparan terhadap senyawa berbahaya tersebut. Efek jangka panjangnya
mencakup peningkatan risiko kanker, aterosklerosis, serta penuaan dini akibat
stres oksidatif.
Aspek
lain yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan nutrisi. Sarapan seharusnya
menjadi sumber energi berkualitas dengan komposisi karbohidrat kompleks,
protein, vitamin, dan mineral yang cukup. Gorengan yang tinggi kalori namun
rendah nutrisi akan menciptakan kondisi empty calories, di mana tubuh
kenyang secara cepat namun kekurangan zat gizi penting. Akibatnya, fungsi
kognitif, daya tahan tubuh, dan produktivitas dapat menurun sepanjang hari.
Kesimpulannya, konsumsi gorengan di pagi hari bukan hanya sekadar kebiasaan yang kurang sehat, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan pencernaan, metabolisme, serta risiko penyakit kronis. Alternatif sarapan bergizi seperti buah, oatmeal, telur rebus, atau roti gandum sebaiknya diprioritaskan dibandingkan gorengan. Edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya konsumsi gorengan pagi-pagi sangat penting untuk mendorong perubahan pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan. (WA/Ow)