![]() |
Sumber Foto: Desa Tamanagung |
WARTAALENGKA,
Jakarta - Infeksi cacing usus yang ditularkan lewat
tanah—soil-transmitted helminths (STH) seperti Ascaris lumbricoides, Trichuris
trichiura, dan cacing tambang (Necator americanus/Ancylostoma
duodenale)—tetap menjadi beban kesehatan masyarakat di negara tropis dan
subtropis. Mekanisme penularan melalui fekal–oral dan kontak tanah tercemar
membuat anak usia prasekolah dan sekolah paling rentan, dengan dampak pada
gizi, tumbuh kembang, dan kapasitas belajar. Agenda global menempatkan STH
dalam peta jalan Penyakit Tropis Terabaikan (NTD) menuju 2030, dengan target
eliminasi morbiditas pada anak dan perluasan cakupan kemoterapi preventif. Data
WHO terkini mencatat pada 2023 sekitar 451 juta anak menerima kemoterapi
preventif untuk STH (cakupan global ~51,5%), sementara sejumlah negara telah
memenuhi target ≥75% cakupan pada anak usia sekolah. Intervensi tetap menuntut
integrasi perbaikan sanitasi, air bersih, dan kebersihan pribadi untuk memutus
rantai transmisi.
Beban
klinis STH pada anak berkisar dari asimtomatik hingga komplikasi berat. Ascaris
dapat membentuk gumpalan cacing (worm bolus) yang menyumbat usus halus dan
menimbulkan obstruksi, volvulus, hingga perforasi; cacing tambang menyebabkan
perdarahan mikroskopik kronik yang berujung anemia defisiensi besi; Trichuris
menimbulkan kolitis dan anemia pada infeksi berat. Dampak jangka panjangnya
termasuk stunting, gangguan kognitif, dan penurunan kebugaran fisik sehingga
mempengaruhi prestasi akademik dan produktivitas. WHO menegaskan cacing tambang
memicu kehilangan besi dan protein kronik yang sangat bermakna pada kelompok
rentan, terutama anak dan perempuan.
Evidensi
terbaru memperbarui strategi terapeutik. Kajian sistematik dan meta-analisis
2023–2024 mengonfirmasi albendazol/mebendazol tunggal tetap efektif untuk Ascaris
dan cacing tambang, tetapi kurang memadai terhadap T. trichiura,
sehingga kombinasi atau agen baru diperlukan. Ulasan 2024 di Scientific
Reports menegaskan pola ini dan mendorong eksplorasi alternatif untuk Trichuris.
Di sisi lain, uji fase 2b multi-negara yang dipublikasikan 2024 di The
Lancet menunjukkan emodepside memiliki tingkat penyembuhan sangat tinggi
untuk cacing tambang (~96,6%), menandai kandidat obat generasi baru yang
potensial mengatasi keterbatasan rezim standar.
Pendekatan
populasi juga berkembang. Meta-analisis 2024 menilai kemoterapi preventif
berbasis ivermektin dalam program pemberantasan NTD lain dapat turut menurunkan
prevalensi STH pada komunitas endemik—indikasi bahwa strategi “platform MDA
terpadu” berpotensi mempercepat pencapaian target 2030 bila diselaraskan dengan
pemantauan diagnostik yang baik. Namun, pemodelan berbasis individu di Nature
Communications 2024 mengingatkan potensi evolusi resistensi obat STH dalam
satu dekade bila kemoterapi preventif hanya berfokus pada anak, sehingga
penguatan surveilans efektifitas obat dan perluasan sasaran menjadi kritikal.
Dimensi
diagnostik turut berinovasi. Walau pemeriksaan tinja mikroskopik masih lazim,
publikasi 2025 melaporkan pendekatan gabungan morfologi–molekuler untuk
diagnosis Necator americanus pada kasus anemia berat, menyoroti nilai
tambah teknik molekuler di fasilitas rujukan. Akurasi diagnosis penting untuk
membedakan etiologi anemia anak, mengingat anemia sendiri berkontribusi
signifikan terhadap mortalitas balita; sintesis bukti 2025 menunjukkan setiap
kenaikan 1 g/dL hemoglobin berkorelasi dengan penurunan mortalitas anak sebesar
~24%.
Kejadian
berat dan fatal pada anak, meski tidak umum di fasilitas yang siap, tetap
terdokumentasi dan menuntut kewaspadaan. Literatur kasus 2023–2025 melaporkan
obstruksi usus akut pada anak akibat A. lumbricoides di berbagai
setting, termasuk Ethiopia dan wilayah lain, dengan presentasi nyeri perut
hebat, muntah biliosa, hingga muntah cacing, yang dapat berkembang menjadi
nekrosis usus, peritonitis, sepsis, dan kematian bila terlambat ditangani.
Sejumlah laporan menyebutkan estimasi mortalitas global ascariasis historis
mencapai puluhan ribu per tahun, terutama terkait obstruksi usus pada anak,
menegaskan bahwa cacingan bukanlah penyakit sepele.
Narasi
klinis tragis juga muncul pada spektrum anemia berat akibat cacing tambang.
Kasus-kasus di literatur menampilkan anemia defisiensi besi parah dengan
hemodinamik labil dan risiko gagal jantung berujung fatal bila diagnosis
terlambat atau terapi tidak memadai, menegaskan perlunya skrining anemia pada
anak di daerah endemik, terapi besi, dan eradikasi cacing secara serempak.
Bukti ini memperkuat hubungan tak langsung antara STH dan kematian anak melalui
jalur anemia berat, malnutrisi, dan infeksi sekunder.
Dari
sudut kebijakan, capaian kemoterapi preventif perlu dibarengi perbaikan
sanitasi, akses air layak, dan promosi kebersihan tangan. Penerapan paket
intervensi WASH (water, sanitation, hygiene) bersama deworming sekolah,
fortifikasi pangan/terapi besi pada populasi anemia, serta edukasi perilaku
buang air besar di jamban aman merupakan kombinasi yang paling berdampak.
Komunitas riset juga mendorong kombinasi obat—misalnya albendazol–ivermektin
atau albendazol–oxantel—untuk meningkatkan efek pada Trichuris, dengan
evaluasi keamanan dan efektivitas dunia nyata yang ketat.
Ke
depan, ketersediaan obat baru seperti emodepside, optimalisasi cakupan MDA
lintas-kelompok umur, dan inovasi diagnostik kuantitatif akan menentukan
kecepatan kita menuju target 2030. Namun, model evolusi resistensi mengingatkan
bahwa strategi harus adaptif—memantau efikasi, menyesuaikan regimen, dan
mengintegrasikan WASH serta gizi. Bagi klinisi dan pengelola program, pesan
utamanya jelas: cacingan pada anak tetap dapat mematikan melalui obstruksi usus
atau anemia berat; keberhasilan pencegahan bergantung pada deteksi dini gejala
bahaya (nyeri perut hebat, muntah biliosa/muntah cacing, pucat berat, lemas),
rujukan cepat, serta kemoterapi dan dukungan gizi yang tepat.
Secara keseluruhan, penyakit cacingan masih relevan sebagai ancaman kesehatan anak di wilayah endemik. Bukti terbaru menguatkan efektivitas strategi kemoterapi preventif, menyoroti keterbatasan regimen lama terhadap Trichuris, membuka peluang terapi baru yang lebih poten untuk cacing tambang, dan memperingatkan risiko resistensi bila intervensi tidak komprehensif. Mencegah satu kematian anak akibat obstruksi Ascaris atau anemia cacing tambang adalah argumen paling kuat untuk mempercepat integrasi program deworming, WASH, dan gizi—dengan sains sebagai penuntun dan sistem kesehatan primer sebagai garda terdepan. (WA/Ow)