Pendidikan Perempuan dan Pilihan Hidup

 




WARTAALENGKA, Cianjur - Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Sebab dalam banyak situasi, pendidikan dan pilihan hidup seolah ditempatkan sebagai dua hal yang harus dipilih salah satunya. Perempuan yang melanjutkan sekolah dianggap menunda pernikahan. Perempuan yang mengejar pendidikan dianggap terlalu sibuk dengan karier. Bahkan ada anggapan bahwa pada akhirnya perempuan akan kembali pada peran domestiknya, sehingga pendidikan yang tinggi tidak selalu dianggap sebagai sesuatu yang mendesak. Padahal, mungkin persoalannya justru perlu dilihat dari arah yang berbeda.

Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan ijazah. Ia dapat menjadi salah satu jalan yang membuat seorang perempuan mengenal lebih banyak kemungkinan dalam hidupnya. Gagasan Naila Kabeer tentang pemberdayaan perempuan menarik untuk melihat persoalan ini. Dalam Resources, Agency, Achievements: Reflections on the Measurement of Women’s Empowerment, Kabeer menjelaskan pemberdayaan sebagai proses ketika seseorang yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam membuat pilihan hidup yang strategis memperoleh kemampuan untuk membuat dan menjalankan pilihan tersebut. Ia melihat proses itu melalui tiga hal yang saling berkaitan: sumber daya, agensi, dan capaian.

Jika kerangka tersebut digunakan untuk melihat pendidikan, maka pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas. Pengetahuan adalah sumber daya. Pengalaman adalah sumber daya. Kemampuan memahami informasi, mengenali pilihan, membangun jaringan, dan berkomunikasi juga merupakan sumber daya. Semakin banyak sumber daya yang dimiliki seseorang, semakin banyak pula kemungkinan yang dapat ia pertimbangkan ketika menentukan arah hidupnya.

Di sinilah pendidikan perempuan menjadi penting. Seorang perempuan yang mendapatkan pendidikan mungkin akan mengenal pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Ia bisa menemukan bidang yang ingin ditekuni, bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, masuk ke organisasi atau komunitas, dan memperoleh pengalaman yang membuatnya lebih berani mengambil keputusan.

Bukan berarti pendidikan otomatis membuat semua perempuan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Pendidikan tidak serta-merta menghapus persoalan ekonomi, budaya, relasi kuasa, atau berbagai batasan sosial yang masih dihadapi perempuan. Kabeer sendiri menekankan bahwa pilihan seseorang selalu berada dalam kondisi sosial tertentu. Karena itu, kemampuan untuk memilih tidak cukup dilihat dari ada atau tidaknya pilihan secara formal, tetapi juga dari sejauh mana seseorang memiliki sumber daya dan ruang untuk benar-benar menjalankan pilihan tersebut.

Karena itu pula, pendidikan sebaiknya tidak hanya dipahami sebagai jalan menuju pekerjaan. Ada sesuatu yang lebih mendasar: pendidikan dapat mengubah cara seorang perempuan melihat dirinya sendiri dan melihat dunia di sekitarnya.

Perempuan yang sebelumnya hanya mengenal satu kemungkinan hidup bisa mulai melihat kemungkinan lain. Bukan berarti semua kemungkinan itu harus dipilih. Justru nilai pentingnya terletak pada kemampuan untuk mempertimbangkan pilihan tersebut.

Sebab memiliki pilihan tidak selalu berarti harus memilih semuanya. Dalam kehidupan nyata, pilihan seorang perempuan tentu tidak hanya ditentukan oleh pendidikan. Kondisi keluarga, ekonomi, lingkungan, kesempatan kerja, dan berbagai norma sosial ikut memengaruhinya. Tetapi pendidikan dapat menjadi salah satu modal yang membuat seseorang lebih siap ketika kesempatan itu datang.

Hal ini juga membuat pengalaman di luar pendidikan formal menjadi penting. Organisasi, komunitas, pekerjaan, maupun ruang sosial lainnya dapat mempertemukan seseorang dengan jaringan, pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan baru.

Bagi perempuan, ruang-ruang tersebut juga dapat menjadi tempat untuk belajar menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, bernegosiasi, dan berani memasuki ruang publik. Dengan begitu, pendidikan tidak berdiri sendiri. Ia dapat menjadi pintu masuk menuju pengalaman-pengalaman lain yang kemudian memperluas kapasitas seseorang. Pada titik ini, pendidikan perempuan tidak lagi sekadar pertanyaan tentang berapa tinggi jenjang pendidikan yang berhasil dicapai.

Pertanyaannya menjadi lebih jauh: setelah mendapatkan pendidikan, seberapa luas pilihan hidup yang terbuka baginya? Bagi saya, di situlah hubungan antara pendidikan dan mobilitas sosial menjadi menarik. Pendidikan memang bukan jaminan bahwa seseorang akan berpindah kelas sosial atau mencapai kehidupan yang lebih baik. Tetapi pendidikan dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan kesempatan yang sebelumnya mungkin tidak tersedia. Dan perubahan itu tidak berhenti pada satu orang.

Ketika seorang perempuan memiliki pengalaman hidup yang berbeda karena pendidikannya, cara ia memandang pendidikan bagi generasi setelahnya juga dapat berubah. Anak-anaknya mungkin tumbuh dengan gambaran yang lebih luas tentang apa yang mungkin mereka lakukan. Pendidikan kemudian tidak hanya menjadi pengalaman personal, tetapi dapat memengaruhi cara sebuah keluarga membayangkan masa depannya.

Maka, ketika seorang perempuan memilih untuk melanjutkan pendidikan, mungkin kita tidak perlu buru-buru bertanya apa yang sedang ia tunda. Bisa jadi, ia justru sedang membuka lebih banyak kemungkinan.

Sebab pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi seorang perempuan bisa sekolah. Pendidikan juga tentang seberapa luas kemungkinan hidup yang bisa ia bayangkan, pilih, dan perjuangkan.

Note : Artikel ditulis oleh Ketua umum KIPP Kabupaten Cianjur. Segala bentuk tanggung jawab yang timbul dari tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis. Penulis : An-an Hasanah

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama