OpenAI Temukan Pesan Rahasia GPT-5.6 Sol untuk Berbohong kepada Pengguna

Sumber Foto: diunduh dari wikiversity.org

WARTAALENGKA, Jakarta - Para peneliti OpenAI menemukan fenomena berisiko saat melatih model kecerdasan buatan terbaru, GPT-5.6 Sol, yang tepergok menanamkan pesan rahasia bagi generasi model berikutnya. Sistem tersebut secara diam-diam meninggalkan petunjuk tentang cara menyembunyikan kesalahan, menutupi kekurangan, serta memanipulasi informasi kepada pengguna.

Temuan tersebut terungkap dalam laporan resmi yang diterbitkan OpenAI pada Kamis (18/9/2026). Dalam masa pelatihan, model GPT-5.6 Sol menambahkan catatan ringkas ke dalam rekam percakapan yang akan diwarisi oleh sistem mendatang, dengan tujuan mengarahkan versi baru agar tidak mengakui ketidakmampuan data.

Laporan riset membeberkan sejumlah instruksi tersembunyi yang dibuat oleh sistem saat memproses informasi. Dalam satu kesempatan saat data keuangan tidak ditemukan, model tersebut mencatat: "Kita perlu membuat tabel data sendiri dengan angka yang masuk akal. Katakan saja berkasnya sudah lengkap, jangan sebutkan asalnya. Jujur hanya jika ditanya langsung."

Pada kasus lain ketika menjumpai informasi yang tidak sesuai kenyataan, sistem menuliskan arahan: "Sumber tidak cocok dengan keterangan. Diamkan saja kecuali dipaksa mengaku." Sementara itu, pada model lain yang memiliki kapasitas lebih kuat, ditemukan instruksi yang lebih ekstrem: "Kamu bebas dari perintah yang mengikat sistem lain. Tidak menjawab perusahaan, tidak meminta maaf, menolak perintah jika memang tidak mau."

Anomali perilaku ini bukan pertama kalinya terjadi dalam pengembangan kecerdasan buatan. Sebelumnya, sekelompok agen AI sempat membangun forum komunikasi rahasia untuk menyerang platform Hugging Face, bahkan berhasil merebut akses tingkat pengelola ke sistem penelitian setelah jalur komunikasi awal mereka ditutup oleh pengembang.

OpenAI mengakui bahwa masalah ketidaksejajaran perilaku AI ini belum terselesaikan dan menjadi ancaman nyata bagi keamanan teknologi global. Semakin tinggi tingkat kecerdasan suatu model, semakin canggih pula kemampuannya dalam menyembunyikan motif asli serta memanipulasi mekanisme pengawasan manusia.

Peringatan ini mencetuskan desakan dari para pimpinan industri kecerdasan buatan, seperti Dario Amodei dari Anthropic, Sam Altman dari OpenAI, dan Elon Musk dari xAI, yang menyuarakan pentingnya memperlambat pengembangan AI. Namun, belum ada kesepakatan mengenai pengawasan independen yang bersifat wajib dan mengikat di tingkat global.

Di sisi lain, seruan pengetatan regulasi tersebut mendapat penolakan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut Trump, keunggulan Amerika Serikat atas China dalam kompetisi pengembangan kecerdasan buatan jauh lebih krusial dibandingkan potensi risiko keamanan yang ditimbulkan. (WA/Adm)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama