FILSAFAT DAN TASAWUF (ISYRAQI & HIKMAH) PHILOSOPHY AND SUFISM (ISHRAQI & WISDOM)


Gambar Di Unduh dari Pixebay
Sumber Foto : diunduh dari pixabay.com



Oleh : Rahma Isma Fauziah, Nita Fauziah, Rani Noviani 

Warta Alengka, Mahasiswa - Filsafat dan Tasawuf merupakan dua disiplin ilmu penting dalam tradisi intelektual Islam. Filsafat lebih menekankan pada penggunaan akal dan pemikiran rasional dalam mencari kebenaran, sedangkan tasawuf menekankan pada pengalaman spiritual serta penyucian jiwa dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam perkembangan pemikiran Islam, muncul konsep yang mencoba menggabungkan kedua pendekatan tersebut, yaitu filsafat Isyraqi dan konsep Hikmah. Filsafat Isyraqi menekankan bahwa pengetahuan dapat diperoleh tidak hanya melalui rasio, tetapi juga melalui pencerahan batin atau iluminasi spiritual. Sementara itu, konsep Hikmah menekankan kebijaksanaan yang memadukan rasio, wahyu, dan pengalaman spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara filsafat dan tasawuf serta memahami konsep Isyraqi dan Hikmah dalam tradisi filsafat Islam. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai sumber literatur tentang filsafat Islam dan tasawuf. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa filsafat dan tasawuf bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memahami hakikat kebenaran dan realitas. 

PENDAHULUAN 

Dalam tradisi keilmuan Islam, filsafat dan tasawuf memiliki peranan penting dalam memahami hakikat manusia, alam semesta, dan Tuhan. Filsafat berkembang melalui pendekatan rasional dengan menggunakan logika dan pemikiran sistematis. Sementara itu, tasawuf berkembang melalui pendekatan spiritual yang menekankan penyucian hati dan pengalaman batin. Pada awalnya, sebagian kalangan menganggap bahwa filsafat dan tasawuf memiliki pendekatan yang berbeda. Filsafat dianggap terlalu rasional, sedangkan tasawuf lebih bersifat spiritual dan pengalaman batin. Namun dalam perkembangan pemikiran Islam, muncul tokoh-tokoh yang mencoba menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Salah satu bentuk integrasi antara filsafat dan tasawuf adalah filsafat Isyraqi yang dikembangkan oleh Shihab al-Din Suhrawardi. Filsafat ini menekankan konsep cahaya sebagai sumber pengetahuan dan realitas. Selain itu, terdapat pula konsep Hikmah yang dikembangkan lebih lanjut oleh Mulla Sadra melalui gagasan Hikmah Muta’aliyah yang memadukan rasio, wahyu, dan pengalaman spiritual. Melalui pemikiran tersebut, terlihat bahwa filsafat dan tasawuf dapat berjalan bersama dalam menjelaskan hakikat kebenaran. Pengaruh Ajaran Hikmah al-IsyraqAnnemmarie Schimmel, menguraikan bahwa sebagian besar filsafat Suhrawardi al-Maqtul diambil oleh filsuf filsuf Syiah, dan merupakan unsur sangat penting dalam pemikiran filsafat Persia (Schimmel, 2009). Adapun kategori Syiah tersebut tidak dijelaskan oleh Schimmel, besar dugaan peneliti yang dimaksudkan Schimmel adalah Syiah Itsna ‘Asyariyyah. Pemikiran beliau juga banyak mempengaruhi dalam kegiatan intelektual Mulla Shadra, seorang filosof muslim berkebangsaan Persia. Analisis peneliti, pengaruh ajaran Isyraqtidaklah terlalu meluas, khususnya di kalangan umat Islam. Banyak faktor yang menyebabkan tidak meluasnya ajaran Isyraq, penyebab utamanya dimungkinkan karena Suhrawardi al-Maqtul dihukum mati oleh Dinasti Ayyubiyah yang berkuasa saat itu, dan ini menjadikan pemikiran beliau tidak banyak yang mengetahuinya. Pemikiran Suhrawardi al-Maqtul saat ini dipopulerkan kembali, salah satunya oleh Seyyed Hosein Nasr, yang begitu concerndengan menghadirkan berbagai macam karya mengenai Suhrawardi al-Maqtul. 

METODE PENELITIAN 

Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan literatur yang membahas filsafat Islam serta tasawuf. Data tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menjelaskan konsep filsafat Isyraqi dan Hikmah dalam tradisi pemikiran Islam. 

PEMBAHASAN 

Pengertian Isyraq dapat dimaknai sebagai cahaya sebagai simbol ketenangan, dan kebenaran. Pemaknaan ini masih terjadi perdebatan di kalangan akademisi, sebab pada hakikatnya cahaya dalam kajian Suhrawardi al-Maqtul, adalah tidak dapat didefinisikan. Peneliti memandang bahwasanya pemahaman cahaya hanya dapat dipahami melalui penyucian batin atau olah spiritual. Fakhry Madjid menjelaskan bahwa Hikmah al-Isyraq, adalah sifat dan penyebaran cahaya (Madjid, 1987). Adapun cahaya yang dimaksudkan oleh Suhrawardi al-Maqtul adalah bersifat material, dan juga tidak dapat didefinisikan, dan apabila “Terang” diartikan sesuatu yang tidak membutuhkan definisi, maka jelaslah cahaya, seperti entitas yang paling terang di dunia ini, tidak membutuhkan definisi juga (Madjid, 1987; Nasir & Khalilurrahman, 2021). Cahaya sebagai realitas yang meliputi segala sesuatu, menembus ke dalam susunan setiap entitas, baik yang fisik maupun non-fisik, sebagai sebuah komponen yang esensial daripadanya (Madjid, 1987). Pemaknaan Isyraq sebagai cahaya yang melambangkan kebaikan, dikarenakan cahaya yang dimaksudkan Suhrawardi al-Maqtul sebagai entitas teritinggi. Peneliti berpendapat bahwasanya secara hakikat cahaya itu tidak dapat diberikan pemaknaaan, selain berjenjang atau memiliki kedudukan hierarki dan tidaklah dapat dipungkiri bahwasannya lawan kata dari cahaya tersebut adalah gelap/kegelapan. Cahaya merupakan simbol dari filsafat Suhrawardi al Maqtul, dan alat untuk mencapainya adalah dengan menggunakan intuisi landasan epistemologinya, dan membutuhkan rasio sebagai alat untuk menjelaskan intuisi tersebut. Mempertajam kekuatan intuisi adalah dengan melakukan kontemplasi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Suhrawardi al-Maqtul. Lorens Bagus menjelaskan bahwa dalam kajian filsafat, Illuminationism berarti sumber kontemplasi atau perubahan kehidupan emosional kepada pencapaian tindakan dan harmoni (Soleh, 2011). Filsafat dan Tasawuf dalam Islam bentuk dari Filsafat dalam Islam merupakan upaya manusia untuk memahami realitas secara rasional dengan menggunakan akal. Para filsuf Muslim mempelajari berbagai persoalan seperti keberadaan Tuhan, hakikat manusia, serta hubungan antara manusia dengan alam semesta. Tasawuf, di sisi lain, merupakan ajaran yang menekankan pada penyucian jiwa dan kedekatan dengan Allah SWT. Tasawuf bertujuan membimbing manusia agar memiliki akhlak yang baik serta mencapai kedekatan spiritual dengan Tuhan. Meskipun menggunakan pendekatan yang berbeda, filsafat dan tasawuf memiliki tujuan yang sama yaitu mencari kebenaran dan memahami hakikat kehidupan. Filsafat Isyraqi Filsafat Isyraqi atau filsafat iluminasi merupakan aliran filsafat yang menekankan bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui rasio, tetapi juga melalui pencerahan spiritual. Menurut Shihab al-Din Suhrawardi, seluruh realitas pada dasarnya merupakan manifestasi dari cahaya. Tuhan dipandang sebagai Nur al-Anwar atau Cahaya dari segala cahaya yang menjadi sumber segala keberadaan. Dalam pandangan Isyraqi : Tuhan adalah sumber cahaya tertinggi, Alam semesta merupakan pancaran dari cahaya tersebut. Manusia dapat memperoleh pengetahuan melalui iluminasi batin. Konsep ini menunjukkan bahwa pengetahuan sejati tidak hanya berasal dari pemikiran rasional, tetapi juga dari pengalaman spiritual yang mendalam. Konsep Hikmah dalam Filsafat Islam Hikmah secara bahasa berarti kebijaksanaan atau pengetahuan yang mendalam. Dalam filsafat Islam, hikmah dipahami sebagai kemampuan untuk memahami kebenaran secara menyeluruh. Konsep hikmah berkembang dalam pemikiran filsafat Islam sebagai upaya mengintegrasikan antara akal, wahyu, dan pengalaman spiritual. Pemikiran ini mencapai bentuk yang lebih sistematis dalam konsep Hikmah Muta’aliyah yang dikembangkan oleh Mulla Sadra. Menurut Mulla Sadra, sumber pengetahuan terdiri dari tiga hal utama: Akal atau pemikiran rasional, Wahyu atau ajaran agama, Pengalaman spiritual. Dengan demikian, hikmah merupakan bentuk pengetahuan yang tidak hanya rasional tetapi juga spiritual. 

KESIMPULAN
 
Filsafat dan tasawuf merupakan dua pendekatan penting dalam tradisi intelektual Islam yang bertujuan memahami hakikat kehidupan dan kebenaran. Filsafat menekankan pada penggunaan akal dan pemikiran rasional, sedangkan tasawuf menekankan pada pengalaman spiritual dan penyucian jiwa. Filsafat Isyraqi yang dikembangkan oleh Suhrawardi menjelaskan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pencerahan spiritual yang digambarkan sebagai cahaya. Sementara itu, konsep Hikmah yang dikembangkan oleh Mulla Sadra menekankan integrasi antara akal, wahyu, dan pengalaman spiritual. Dengan demikian, filsafat dan tasawuf sebenarnya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memahami realitas dan mendekatkan manusia kepada Tuhan. 

DAFTAR PUSTAKA
 
Nasution, Harun. Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 
Madjid, Nurcholish. Khazanah Intelektual Islam. Jakarta: Paramadina. 
Leaman, Oliver. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Mizan. Echols, John M Shadily, H. (1979). 
Kamus Inggris -Indonesia (Edisi I). PT Gramedia Pustaka Utama. 
Madjid, F. (1987). Sejarah Filsafat Islam (R. M. Kartanegara, Ed.; Edisi I). Dunia Pustaka Jaya. Mahmud Yunus. (2010). Kamus Arab Indnesia(Edisi I). 
Mahmud Yunus Wadzuriyah. Nasir, M., &Khalilurrahman, K. (2021). 
Filsafat Isyraqi Suhrawardi Al-Maqtul (1153 1191)(Analisis Tokoh, Pemikiran, Dan Pendidikan). 

Note : Artikel ditulis oleh mahasiswa prodi pendidikan agama islam IAI Al-Azhary Cianjur. Segala bentuk tanggung jawab yang timbul dari tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis. Penulis : Rahma Isma Fauziah, Nita Fauziah, Rani Noviani (RSD/WA) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama