![]() |
| Sumber Foto: REUTERS/Lisa Marie David |
WARTAALENGKA, Cotabato - Hampir 2,4 juta pemilih di Daerah Otonom Bangsamoro di Mindanao Muslim atau BARMM, Filipina selatan, mengikuti pemilu parlemen perdana pada Senin (14/9/2026). Pemungutan suara ini menjadi tahap penting dalam pelaksanaan kesepakatan damai antara pemerintah Filipina dan kelompok Moro setelah konflik bersenjata selama puluhan tahun.
Pemerintah Filipina menetapkan 14 September 2026 sebagai hari libur khusus non-kerja di BARMM agar warga dapat menggunakan hak pilihnya. "Untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat Daerah Otonom Bangsamoro di Mindanao Muslim untuk berpartisipasi secara aktif dan penuh dalam pemilihan dan menggunakan hak pilih mereka, sudah sepatutnya dan pantas untuk menetapkan hari Senin, 14 September 2026, sebagai hari libur khusus (hari non-kerja)," demikian bunyi Proklamasi Nomor 1395 yang diterbitkan Malacañang.
Dalam pemilu ini, warga memilih 80 anggota Parlemen Bangsamoro. Komposisinya terdiri atas 40 wakil partai melalui sistem perwakilan proporsional, 32 wakil daerah pemilihan, serta delapan wakil sektoral. Parlemen terpilih nantinya berwenang memilih kepala pemerintahan wilayah otonom tersebut.
BARMM dibentuk setelah plebisit 2019 yang memberi kewenangan otonomi lebih luas bagi wilayah mayoritas Muslim di Filipina selatan. Kawasan ini mencakup sejumlah wilayah di Mindanao, Basilan, Tawi-Tawi, Cotabato City, serta Special Geographic Area di North Cotabato, dengan jumlah penduduk sekitar 4,5 juta jiwa. Nama Bangsamoro berasal dari kata Melayu “bangsa” dan “Moro”, istilah yang digunakan pada masa kolonial Spanyol untuk menyebut komunitas Muslim.
Pemilu ini juga menandai peralihan dari pemerintahan transisi menuju pemerintahan parlementer yang dipilih langsung. Front Pembebasan Islam Moro atau MILF, yang sebelumnya menjadi aktor utama dalam proses damai, kini masuk ke arena politik melalui United Bangsamoro Justice Party. Persaingan politik juga melibatkan partai lain, termasuk Bangsamoro Federal Party yang dipandang dekat dengan Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Bagi pemilih muda, pemilu perdana ini membawa harapan baru setelah sejarah panjang konflik. "Saya pikir pemilihan parlemen ini akan membantu kita mencari pemimpin yang benar-benar berkomitmen," kata Nadah Edris, pemimpin mahasiswa berusia 20 tahun di Kota Cotabato, dikutip dari Arab News. "Saya berharap pemilu ini akan memberi kita peluang... Pemilu ini adalah bukti bahwa kita berhasil dan telah memperoleh apa yang kita perjuangkan, yaitu perdamaian dan pembangunan."
Konflik Moro berakar sejak akhir 1960-an dan awal 1970-an, dipicu persoalan tanah, marginalisasi politik, serta perlakuan terhadap komunitas Muslim. MNLF semula menuntut kemerdekaan, sebelum Perjanjian Tripoli 1976 menggeser pembicaraan ke arah otonomi. Sebagian faksi kemudian melahirkan MILF, yang berkembang menjadi kelompok pemberontak dominan di kawasan itu. Konflik bersenjata tersebut diperkirakan menewaskan sekitar 150.000 orang dan menyebabkan sekitar 1 juta orang mengungsi.
Meski pemungutan suara disebut secara umum berlangsung damai, otoritas pemilu Filipina tetap menghadapi tantangan keamanan dan logistik. Reuters melaporkan tiga orang tewas dan belasan lainnya terluka dalam insiden penembakan menjelang pemungutan suara di Cotabato, sementara Komisi Pemilihan Umum Filipina menyebut pemilu tetap berjalan dengan pengawasan dan penanganan kendala di lapangan. Keberhasilan pemilu ini akan menjadi ukuran penting apakah perjuangan panjang Bangsamoro dapat bergerak dari konflik bersenjata menuju pemerintahan yang stabil, representatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. (WA/Adm)
